SAMBAS, 9 OKTOBER 2026
Pesisir Sungai Sambas yang dahulu riuh oleh denyut kehidupan pemukiman terapung kini menyimpan kerinduan sejarah yang mendalam.
Rumah Lanting hunian khas yang mengapung di atas air yang pernah menjadi identitas budaya dan pesona estetika Kota Sambas, kini perlahan menghilang dan terancam tinggal kenangan.
Berikut adalah ulasan mendalam mengenai kondisi warisan cagar budaya Sungai Sambas:
Pudarnya keberadaan Rumah Lanting sebagai salah satu arsitektur tradisional dan cagar budaya khas masyarakat pesisir sungai.
Di sepanjang tepian dan pesisir Sungai Sambas, Kabupaten Sambas, Kalimantan Barat, Masyarakat lokal Sambas, komunitas pedagang (termasuk etnis Tionghoa yang dahulu aktif berdagang di atas air), serta pemerintah daerah dan pemerhati budaya kini hanya meninggalkan sebuah cerita
Perubahan terjadi bertahap dari masa kejayaan beberapa dekade lalu hingga kondisi langka pada masa kini.Terjadinya pergeseran gaya hidup, pembangunan akses jalan darat, serta minimnya program pelestarian terpadu untuk pemukiman terapung.
Perlunya langkah revitalisasi melalui penataan kawasan ekowisata berbasis sungai dan penetapan cagar budaya guna menghidupkan kembali nostalgia serta perekonomian lokal.
Kerinduan Suasana Tempo Dulu dan Potensi Revitalisasi
Dahulu, pemandangan di sepanjang sisi kiri dan kanan Sungai Sambas dipenuhi oleh barisan Rumah Lanting yang berdiri anggun di atas rakit kayu. Kehadiran pemukiman terapung ini tidak hanya memberikan nilai estetika tersendiri bagi tata kota, tetapi juga mencerminkan pola kehidupan masyarakat yang tenang, damai, dan menyatu harmonis dengan sungai.
Aliran sungai yang jernih dan teduh pada masa itu menjadi pusat aktivitas sosial dan ekonomi. Interaksi antaretnis terjalin erat, salah satunya ditandai dengan aktivitas para pedagang Tionghoa yang menjajakan barang dagangan menggunakan perahu di antara rumah-rumah lanting.
Namun, seiring pesatnya pembangunan infrastruktur darat dan pergeseran pola hunian, Rumah Lanting kini kian sulit dijumpai. Fenomena ini memicu keprihatinan akan hilangnya jejak sejarah dan identitas maritim Kota Sambas.
Mengingat nilai historisnya yang tinggi, muncul dorongan kuat dari masyarakat dan pemerhati sejarah agar tradisi Rumah Lanting dapat dihadirkan kembali.
Revitalisasi Rumah Lanting bukan sekadar membangun kembali fisik bangunan kayu di atas air, melainkan dapat dikemas menjadi destinasi Ekowisata Budaya Sungai.
Dengan penataan sanitasi yang ramah lingkungan, pengelolaan air bersih, dan integrasi UMKM kuliner maupun kerajinan lokal, keberadaan Rumah Lanting dinilai mampu mengembalikan daya tarik wisata Sambas sekaligus merawat kenangan kolektif masa lalu.
Sumber Berita: Pemerhati Sejarah Sambas
Editor: Tim Redaksi/LARAS MEDIA INDONESIA


1 thought on “Menatap Kenangan di Atas Sungai Sambas: Mampukah Tradisi Rumah Lanting Kembali Dihidupkan Sebagai Cagar Budaya”